CERITA PECANDU NARKOBA

Kita sering salah memperlakukan para drug abuser(s). Seolah-olah kita lebih baik, lebih suci dibanding para pecandu. Kita lupa, kebanyakan pecandu narkotika adalah korban, terlepas dari apapun alasan mereka yang lantas ‘akrab’ dengan narkotika dan zat-zat psikotropika. Saya termasuk orang yang akrab dengan kaum pemabuk, bahkan sejak duduk di bangku Kelas 1 sebuah sekolah menengah pertama favorit di Klaten.
Ketika itu, jangankan pil BK, gelek pun sudah saya lihat, sentuh dan membaunya. Begitu pula saat di bangku SMA, kembali saya dekat dengan sebagian dari mereka. Rupanya, ‘komunitas’ korban itu kian banyak saya jumpai, bahkan bersahabat saat kuliah. Saya, bahkan pernah menyimpan beragam jenis pil setan seperti Lexotan, Rohibnol, Revortril sebanyak dua selongsong bekas film serta segenggam canabis sativa kering.

Salahkah saya memilikinya? Jawabnya tergantung Anda. Dulu, saya ‘dimusuhi’ teman-teman aktivis organisasi kerohanian Islam di fakultas. Saya tahu, bagi orang ‘awam’ seperti mereka, menggeneralisir merupakan pekerjaan mudah. Apalagi, mereka orang-orang pintar yang secara konsisten dan konsekwen mengamalkan pelajaran logika induktif (kebetulan, tiga kali mengulang, saya tak kunjung lulus mata kuliah dasar umum/MKDU ini).

Pernah, seorang dari mereka menggebrak meja ketika saya menyodorkan kelemahan-kelemahan mereka. Ketika itu, seorang teman menyebut teman-temanku yang ‘kaum pemabuk’ sebagai kerak kampus, biang onar dan segala macam sebutan jelek lainnya. Yang membuat kemarahan saya kian memuncak adalah ketika mereka menyinggung praktek Kristenisasi di permukiman warga sekitar kampus.

Kira-kira, begini yang saya katakan ketika itu: Apa yang Anda lakukan ketika proses Kristenisasi berlangsung di sekitar kalian tinggal? Apakah selama ini, kehadiran Anda juga sudah bermanfaat bagi mereka? Kepada saya yang akrab dengan ‘kaum pemabuk’ saja, Anda sudah memandang saya seperti kafir nan jahiliyah?!?

Saya katakan kepada mereka, apapun alasan seseorang menjadi akrab dengan alkohol, ganja dan pil setan, pada dasarnya mereka adalah orang-orang kesepian. Ketika hadir seseorang yang dianggap ‘bersih’ dalam kehidupannya, mereka sudah merasakan penghormatan luar biasa. Apalagi mau mendengarkan curhat atas problem-problem mereka. Bahwa mabuk itu perbuatan tidak baik, mereka sangat tahu. Tapi kebencian akan segera timbul manakala secara serta-merta dikatakan kepada mereka bahwa mabuk itu dosa.

Jujur, saya salut dengan keluarga besar Roy Marten yang mau menerima kenyataan yang dialami Roy. Dukungan keluarga dekat, yang saya tahu, menjadi sangat penting untuk menolong orang-orang seperti Roy keluar dari jerat barang haram semacam itu.

Tapi, ada praktek tak terpuji yang hingga kini masih dibiarkan. Korban narkotika rupanya merupakan pasar dan lahan bisnis bagi kaum cerdik pandai. Karena alasan malu atau demi menjaga martabat dan kehormatan keluarga, kini banyak keluarga memilih menyerahkan anggota keluarganya yang jadi korban narkotika ke panti-panti rehabilitasi yang jumlahnya ratusan di sepanjang Jakarta-Sukabumi, juga di kota-kota lain.

Kebanyakan mereka hanya percaya seratus persen kepada terapis, tapi ogah terlibat proses penyembuhan. Ironisnya, banyak pengelola panti rehabilitasi yang memanipulasi ketidaktahuan korban dan keluarganya. Di antaranya, dengan menerapkan praktek pengobatan dengan cara mengurangi dosis dari konsumsi rata-rata korban narkotika . Tak jarang, banyak pula yang menjerumuskan dengan metode detoksifikasi, seolah-olah itu merupakan satu-satunya jalan menyembuhkan.

Saya yakin, banyak orang tak percaya dengan kisah teman saya, seorang pecandu yang pernah saya ‘titipkan’ proses penyembuhannya kepada seorang terapis yang punya pengalaman menangani para korban kecanduan narkotika di Amerika Serikat. Kebetulan, teman saya sudah malang-melintang ke sejumlah psikiater dan pengelola panti rehabilitasi korban narkotika.

“Dari pengalaman saya mendatangi beberapa terapis dan psikiater, ternyata saya justru menjumpai sejumlah asisten terapis yang nyambi menjual sabu-sabu,” kata teman itu. Duh!!!

Sumber : blontypix

Baca Selengkapnya.....

REHABILITASI GRATIS KORBAN NARKOBA

Jika ditengah keluarga kita ada pecandu Narkoba, pasti sangat menyedihkan. Ada keluarga yang menutupi keberadaan korban penyalahguna Narkoba, bisa karena malu atau juga karena masalah biaya. Untuk itulah Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui Pusat Terapi dan Rehabilitasi membuat program penjangkauan untuk mengangani para korban penyalahgunaan
Narkoba ini. Badan Narkotika Propinsi Kalbar (BNP Kalbar) sebagai perpanjangan tangan dari BNN menyebarluaskan informasi kepada masyarakat Kalimantan Barat bahwa, jika Anda atau keluarga Anda menjadi korban penyalahgunaan Narkoba, Anda dapat menghubungi kami di alamat JL. A. Yani No. 01 Pontianak Telp. 0561-733256 Fax. 0561-584452 email : bnpkalbar@gmail.com. Anda juga dapat menghubungi HP saya di Nomor : 081345245940, kami dengan senang hati akan membantu anda. Perlu juga kami informasikan bahwa biaya terapi dan rehabilitasi di BNN GRATIS, termasuk biaya evakuasi dari Kalbar ke BNN Jakarta. Program ini dibuat BNN sebagai atensi pemerintah terhadap korban-korban penyalahguna Narkoba yang semakin meningkat. Tetap jauhni Narkoba, jangan sampai menjadi korban dan JANGAN PERNAH MENCOBA. salam!

Baca Selengkapnya.....

RAKOR BNP KALBAR TAHUN 2008

| 0 Tanggapan

Mohon maaf sebelumnya kalau laporan ini saya tulis berdasarkan sudut pandang saya. Tanggal 5 November 2008 pukul delapan lewat dilaksanakanlah Rapar Koordinasi P4GN BNP Kalbar di Ruang Rapat Wakil Gubernur Kalbar. Dari awal saya pesimis bahwa rakor ini akan menghasilkan suatu perubahan yang signifikan bagi kelembagaan Badan Narkotika Propinsi/Kota/Kabupaten Kalimantan Barat. Melihat daftar undangan seharusnya rakor ini adalah momen yang tepat untuk membicarakan "nasib" BNP/BN Kota/Kab. Bagaimana tidak, dalam daftar absensi peserta rapat tertera semua pejabat instansi yang tergabung dalam BNP dan wakil walikota/bupati plus kalakhar BN Kab/Kota. Rapatnya sendiri berlangsung biasa-biasa saja. Awalnya rapat dibuka oleh Wakil Gubernur Kalbar selaku Ketua BNP Drs Christiandy Sanjaya, SE, MM yang kemudian karena ada kesibukan lain harus meninggalkan rapat. Rapat kemudian dipimpin oleh Kalakhar BNP Drs Sugeng Heryanto, MBA didampingi oleh Asisten I Gubernur Kalbar dan lagi-lagi Bapak Asisten ada keperluan lain dan meninggalkan rapat. Kemudian dalam acara pemaparan kendala dan hambatan BN Kota/Kab masalah diutarakan hamir seragam. Masalah tersebut intinya adalah ketidakjelasan kelembagaan BNP/BN Kab/Kota serta tidak adanya anggaran khusus untuk BNP/BN Kota/Kab. Seperti yang saya uraikan di awal praktis rakor ini belum membawa hasil yang lebih baik. Kecewa? Entahlah.

Baca Selengkapnya.....

DIKLAT SATGAS DISEMINASI INFORMASI BNN

Badan Narkotika Nasional melalui Satgas Diseminasi Informasi melaksanakan Pendidikan Dan Latihan untuk anggotanya. Pelatihan yang dilaksanakan tanggal 29 Oktober 2008 ini bertujuan untuk menambah pengetahuan anggota satgas dalam penyebaran informasi khususnya dalam dunia maya dalam hal ini dunia blog. Blog adalah media yang tepat untuk menyebarkan informasi tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba. Well, selamat berlatih kawan-kawan. Salam Hangat!!! Oh yah kalau ada waktu silahkan berkunjung ke blog pribadi saya di sini

Baca Selengkapnya.....